Selasa, 19 Januari 2021

Biduk Tua Mencari Makna "Lagerunal"

Sumber : https://fi.pinterest.com/pin/310818811764494095/


Biduk Tua Mencari Makna "Lagerunal"
 

(Bagian 1)

Oleh : Imam Syafii

Belum genap satu minggu berlalu sejak bergabung di grup para suluh literasi negeri "Cakrawala Blogger Guru", tepatnya 15 Januari 2021 alam pikir ini sepertinya tiada henti mulai terus mengembara mengarungi luasnya samudera bahasa meski hanya dengan sebuah biduk tua tak berharga.

Dengan penuh keyakinan diiringi untaian kata doa menyebut nama Sang Maha Kuasa, biduk tua pun mulai menuju samudera luas yang penuh lautan kata. Kegembiraan tampak menyelimuti wajah biduk tua saat berada di samudera. Sahdan terbelalak mata biduk tua saat menatap tajam ke depan tampak fatamorgana samudera yang tak bertepian. Terselip sedikit keraguan hati "Bilakah biduk tua sampai ketepi?" bisik hatinya

Meski sedikit ragu namun dengan berbekal dorongan kemantapan kalbu, biduk tua pun terus melaju. Melaju tanpa henti melajajahi ragam warna indahnya samudera untuk menemukan makna sebuah kata ukiran pujangga yang menurut dirinya masih sangat asing di telinga. 

Kata itu "Lagerunal"

Sumber : https://www.blogger.com/profile/13977202668922802651

Ya, masih terlalu asing bagi seorang biduk tua yang kini ternyata telah berada di samudera. Samudera yang diyakininya menyimpan berjuta harta berharga. Tinta-tinta emas para pujangga yang menyilaukan mata bagi para pecintanya.

Namun, semangat biduk tua tak pernah goyah oleh terjangan gelombang yang  tiba-tiba datang menghantam bertubi-tubi menerjang tubuh biduk tua seperti tidak ingin bersahabat lagi. Namun, biduk tua tetap bertahan. Hantaman demi hantaman ombak datang silih berganti, akan tetapi semakin mengobarkan semangat membara biduk tua diiringi terangnya pijar surya dan cahaya rembulan yang ramah menyapa mengusap wajah biduk tua saat telah sampai di tengah samudera. 

Ia pun berhenti sejenak melepaskan rasa lelah menikmati belaian sang bayu yang tak henti seolah ia mengerti apa yang biduk tua cari. Sang bayu pun tak malu sesekali bercanda tertawa sembari berkata mesra membawa kesejukan dan kedamaian hati biduk tua. 

Tak berselang lama bayu pun berkata lirih "Disinilah kujaga harta Pujangga", katanya merdu terdengar di telinga biduk tua. "Benarkah di sini", tanya biduk tua. "Benarkah", tanyanya kembali seolah tak percaya. Sang bayu pun kembali tertawa bersama senyuman rembulan dan kedipan bintang yang menyaksikan. Kemudian ia berkata lantang "Aku Penjaga Harta Lagerunal", teriaknya.

Sontak membuat tubuh biduk tua bergetar hebat tak kuasa menahan kegembiraan tersungkur dalam sujud syukurnya seakan hati, jiwa dan alam fikirnya terbang mengangkasa berbicara  dengan Sang Maha Pencipta "Terima kasih wahai Tuhanku, Engkau izinkan aku untuk menemukan makna kata tinta pujangga", ungkap biduk tua penuh syukur dengan suara batinnya ia berbicara kepada Tuhannya.

Sesaat biduk tua bangkit dari sujud, memandang sang bayu yang masih tersenyum menatapnya tanpa berkata-kata. Perlahan sang bayu memperlihat kan lembaran-lembaran harta karya-karya pujangga yang dijaganya dan ia lantas berkata "Inilah harta untuk warisan generasi kita. “Bersediakah engkau menerimanya?", tanyanya kepada biduk tua.

Air wajah biduk tua pun tampak sumringah penuh ceria saat sang bayu mengatakan itu kepadanya. Tidak lagi mempedulikan bahwa selimut malam semakin pekat dan kedip bintang yang mulai pudar meski masih menyaksikan. Biduk tua pun menjawab dengan penuh kegembiraan, "Aku bersedia", ucapnya lantang


Bersambung ke.........Bagian 2

Mohon maaf Sobat Lage, kita lanjutkan Insyallah besok malam yaa..Terima Kasih.


14 komentar:

  1. Ditunggu kelanjutannya, Pak Imam

    BalasHapus
  2. Matursembah nuwun sdh bersedia mampir...isnyaallh siap..Masih bljr merangkai kata..mhn bimbinganipun..

    BalasHapus
  3. Ini keren....lagi enak2 baca, eh bersambung....hehehe...

    BalasHapus
  4. Kerennn pak Imam, pujangga kaya kata bermakna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smg bisa memberi semagt Para Sobat Lage"..

      Hapus
  5. Untung bersambung bukannya kepotong iklan...
    Hehehhe... Lanjutkan

    BalasHapus
  6. Cerita seperti puisi... bahasanya rapi dan kisahnya menghanyutkan....karena ditengah samudera. Mantap pak Imam.... salam sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak, beljr mengungkankan keresahan hati..he3

      Hapus
  7. Hai biduk tua yang masih perkasa. Bolehkah aku ikut di haluan? Menerjang riak bersama kekarnya kayuhan tuan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohn bimbingan Pak D. Niki luar biasa..siap sya jadi abk pak D..tambah semangat..he2.

      Hapus
  8. Mendayung biduk bersinergi dengan arus globalisasi, berikhtiar menempatkan diri agar selaras dengan kehendak Ilahi

    BalasHapus