Kamis, 25 Februari 2021

Karsa, Karya, dan Rasa


Karsa, Karya, dan Rasa

Oleh : Imam Syafii

Memperhatikan foto yang dikirimkan oleh sang Master, MazMo sebagai bagian dari tantangan program mingguan Komunitas Lagerunal #KamisMenulis edisi 25 Februari 2021, dalam benak saya tercetus tiga kata. Karsa, Karya, dan Rasa. Tiga kata itu menurut saya mewakili beribu kata yang tersirat dari sebuah foto yang disajikan oleh Sang Bianglala Kata.

Usai bermain dengan tema tantangan profil teman, suaka marga kata (lose), tema bebas, keroyok blog, bermain tiga kata (terima, sadari, perbaiki), suaka marga kata (bahadur), kali ini menghadirkan tantangan membaca foto (gambar).

Sebuah foto (gambar) memang menyimpan banyak misteri yang dapat diungkapkan baik di alam nyata maupun di dunia maya. Di alam nyata, misteri ini dapat diungkapkan melalui bincang-bincang langsung bersama teman atau dengan berdiskusi ringan yang tidak menguras energi saat melihatnya. Sedangkan di dunia maya dapat diungkapkan melalui berbagai karya tulis yang mengisi ruang-ruang media digital online.


Baca Juga : Bahadur Kian Masyhur

Sebenarnya kedua-duanya nyata adanya di dunia ini sepanjang bumi ini masih berputar dan matahari masih bersinar dan terbit dari Timur dan tenggelam di Barat. Hanya saja sebutan nyata dan maya tidak lebih disebabkan oleh adanya dinding pemisah berupa ruang-ruang virtual berbasis digital.

Ruang-ruang itu membatasi interaksi seseorang dengan lainnya untuk saling pandang, sapa, dan bertatap muka secara langsung. Aktivitas ini hanya dapat dilakukan melalui aplikasi digital dan dilakukan secara online. Faktanya, bahwa kita semua masih diberikan anugerah kehidupan untuk mensyukuri semua pemberian dan menjalankan tugas penghambaan merupakan bukti bahwa kita semua masih ada di dunia nyata dan maya.

Ketika seseorang melihat sebuah foto (gambar), maka imajinasinya akan langsung mengembara mencari pesan tafsiran makna dan kata yang dirasa tepat sembari menyelami dan berusaha menarasikan ide atau gagasan yang coba dibangun oleh sang pembuat foto (gambar) itu sendiri. Dengan memandang berulang kali, mencermati, menyelami, dan menelusuri alam pikir sang pembuatnya, maka foto (gambar) itu seolah-olah hidup dan berbicara kepada siapa saja yang melihatnya.

Oleh sebab itu, sebuah foto (gambar) dikatakan dapat berbicara dengan beragam kata dan makna. Mengapa? Oleh karena kata dan makna itu merupakan hasil dari interpretasi dari pemikiran seseorang yang berupaya menarasikannya dalam bentuk bahasa lisan maupun tulisan.

Bagaimana seseorang menginterpretasikan atau menafsirkan sebuah foto (gambar)? Maka jawabannya adalah hal ini sangat bergantung dari sudut mana ia akan menjelaskannya. Jawabannya tentu sangat beragam dan berbeda-beda bergantung dengan cara pandang dan pengetahuan seseorang. Tidak perlu sama, dan sah-sah saja setiap orang akan berusaha menarasikan apa yang dilihatnya sesuai cara pandang masing-masing.


Pada kesempatan kali ini, apa yang terlintas di benak saya setelah melihat foto tersebut adalah kata karsa. Karsa dimaknai sebagai daya (kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak; singkatnya adalah kehendak atau niat.


Perhatikan saja, bagaimana sang peracik masakan (koki) dengan kekuatan jiwanya dan niat yang kuat mengumpulkan dua butir telur yang telah dipecah dan diletakkan dalam wadah mangkuk berwarna putih. Lalu memotong-motong pendek kacang panjang kira-kira 1-2 cm, dan mengiris buah terong dengan ukuran sedikit tipis, serta menyiapkan jagung manis yang juga dipotong menjadi beberapa bagian tipis.


Mengumpulkan ragam bahan masakan dengan corak warna yang berbeda adalah sebuah karsa untuk menyatukan perbedaan dalam satu sajian masakan yang menggugah selera. Telur dengan warna kuningnya yang cantik, kacang panjang dengan warna hijaunya yang menyegarkan pandangan mata. Bagian dalam terong ungu yang bersih putih, dan irisan jagung dengan warna emasnya akan memikat siapapun yang memandangnya. Kehendak jiwa yang hebat untuk sajian makanan dengan ragam warna yang berbeda.


Tanpa karsa dari sang peracik dan pengolah rasa, bahan ragam warna takkan memberi sesuatu yang berharga. Inilah karsa untuk membuat sajian dan hidangan sayuran dari bahan yang sehat dan bergizi tinggi bagi penikmat makanan produk alam lestari.


Selain itu, sepertinya pengolah rasa ini tidak saja mahir dalam memainkan kemampuannya dalam memilih menu masakan, tetapi juga mahir dalam memainkan imajinasi karsanya. Karsa itu pun kemudian menjelma menjadi sebuah karya. Karya yang dimaknai sebagai pekerjaan; hasil pekerjaan; buatan; ciptaan.



Lihatlah bagaimana dengan piawainya ia menyusun setiap bahan yang telah disiapkan menjadi sebuah karya seni yang sangat cantik, menarik dan fotogenik. Tanpa imajinasi yang menyatu dengan hati tentu karya seni foto ini tidak akan dapat terwujud. Sebuah foto dan karya seni yang terwujud dari sebuah karsa penuh imajinatif sebagai bukti keahlian yang mumpuni dari seorang pengolah masakan sejati.


Wadah bulat berwarna putih seolah-olah menjadi bagian kepala dengan dua buah butir telur berwarna kuning sebagai mata. Potongan kacang panjang yang tersusun rapi berperan sebagai lehernya dan badannya. Tumpukan irisan terong berwarna putih menjadi bagian kedua tangannya yang membuka, dan potongan jagung yang disusun menggambarkan sosok yang sedang duduk bersila tampak tersenyum gembira menanti hidangan yang akan disajikan. Seolah-olah ia berkata,” Makanlah dengan gembira,” ucapnya.


Terkait dengan rasa, maka tidak perlu diragukan lagi. Muara akhir dari karsa yang digagas dan karya seni yang telah dikreasi oleh para pengolah rasa sejati adalah menyatukannya dalam sebuah karya nyata masakan yang dapat dirasa. Rasa dimaknai dengan tanggapan indra terhadap rangsangan saraf, seperti manis, pahit, masam terhadap indera pengecap, atau panas dingin, nyeri terhadap indera perasa.


Di tangan ibu-ibu dan para gadis pecinta masakan yang aktif mengolah makanan di dapur, tentu bahan-bahan tersebut akan menjadi menu makanan yang sangat ditunggu. Paket lengkap untuk membuat sayur asem atau sayur lodeh. Cita rasa istimewa bersama telur mata sapi, sambal terasi dan nasi hangat serta sedikit ikan asin atau sambal teri akan semakin menjadikan suasana kehangatan yang penuh dengan kasih sayang dan cinta kasih semakin terpatri.


Meski makanan sederhana akan tetapi sangat sehat untuk semua dan utamanya menjalin kebersamaan dalam kehangatan keluarga tentu lebih berharga. Diiringi canda tawa gembira menikmati sajian sayur asem atau sayur lodeh seperti yang tergambar dalam foto tertawa bahagia.


Salam literasi.

18 komentar:

  1. Intuisi yang tajam mengupas sesuatu di balik "selembar" gambar. Mantap, Pak Imam.

    BalasHapus
  2. Nembah nuwun apresiasinipun pak D. Salam hormat.

    BalasHapus
  3. Ulasan yg sungguh menarik. Kata dirangkai menjadi kalimat yg apik. Membacanya tidak bosan malah asyik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu telah berkenan membaca tulisan yang sederhana ini.

      Hapus
  4. Mantap, Pak Imam
    begitu teliti menguliknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu, mencoba menangkap pesan tersirat. Mungkin belum begitu tepat.he2

      Hapus
  5. Sungguh luar biasa, hanya dari sebuah gambar dapat tercipta rangkaian kata yang sangat asyik dan menarik saat dibaca... Keren pak Imam

    BalasHapus
  6. Rangkaian kata yang tersusun rapih dari sebuah gambar dengan segala rupa objek di dalamnya. Diracik dengan sempurna oleh jemari penulis berbakat.
    Terimakasih sudah berbagi Pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali master. Mencoba menangkap ide dari tantangan gambar.

      Hapus
  7. Tulisan yang runut dan rapi, ini mah sudah prefesional .apa saja yang disajikan mampu dioalah menjadi tuilisan yang menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu atas kunjungannya dan berkenan membaca tulisan sederhana dari hasil olah gambar.

      Hapus
  8. Luar biasa,Bapak menuangkan gagasan ide nya dari sudut pandang yg berbeda, kereeen..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ambu, mohon terus bimbingannya.

      Hapus
  9. Kadang ada hal yang tak kita sangka-sangka akan bisa ditemukan oleh yang lainnya. Tulisan yang cerdas, Bapak. *Menjura*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barokallah, terima kasih master atas apresiasinya. Salam hormat.

      Hapus
  10. Kupasan yang matang dari sebuah foto. Mantull

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak... belajar membaca foto.

      Hapus